Kelola Sampah Kurangi Emisi Bangun Proklim

Perubahan iklim yang diakibatkan oleh pemanasan global merupakan tantangan yang paling serius dihadapi oleh negara-negara di dunia pada abad ke 21 ini, hal ini dipinci pada tahun 2100 diperkirakan suhu permukaan bumi meningkat 1,5 -  4,5 derajat Celsius dan permukaan air laut akan naik hingga 15 – 95 cm. Dampak yang diperkirakan dari perubahan ini akan terjadi antara lain es dan glazier di kutub mencair, sejumlah pulau dan sebagian kota pantai tenggelam, berbagai keaneragaman hayati akan musnah, kerusakan terumbu karang, frekuensi bencana banjir akan meningkat, angin topan hujan badai akan meningkat, banjir akan sering terjadi, frekuensi kebakaran meningkat, penyebaran penyakit bertambah, termasuk dalam hama penyakit tanaman juga akan semangkin komplek bertambah.

Peningkatan suhu lingkungan permukaan bumi ini akibat adanya emisi gas rumah kaca (GRK). Gas Rumah Kaca adalah gas yang menyerap gelombang panas dari sinar matahari yang dipantulkan bumi dengan jenis-jenis yang penting yaitu karbondioksida (CO2), methane (CH4), nitrous oxide (N2O), chloroflourocarbon (CFC), sulfur heksafluorida (SF6), hidrofluorokarbon (HFCs), dan Perfluorokarbon (PFCs).

Menurut rekaman Laboratorium Penelitian Sistem Bumi (ESRL-NOAA) di Hawai, yang dikutip The Guardian dalam Newsletter 2 April 2021, pada 21 Maret 2021 konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer mencapai rekor baru sebesar 417,72 part per million. Ini angka tertinggi jumlah konsentrasi gas rumah kaca yang pernah terekam sejak Revolusi Industri 1850. Para ahli telah sepakat bahwa batas konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer yang masih bisa ditoleransi sebanyak 350 ppm. Artinya, atmosfer bumi telah melewati daya tampungnya. Jika dikonversi ke dalam suhu bumi, planet ini masih bisa menahan laju pemanasan global jika suhunya tak bertambah 20 Celsius dibanding masa praindustri 1800-1850. Butuh berapa ppm agar suhu sebanyak itu tercapai? Hanya butuh 450 ppm. Artinya, untuk mencapai suhu tersebut konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer tinggal 34.33 ppm lagi. Berapa tahun angka itu tercapai? Kita harus menghitung kecepatan pertambahan konsentrasi gas rumah kaca. Tidak lebih dari 15 tahun. Menurut catatan NOAA-ESRL, sepuluh tahun lalu atau pada 2010 jumlah konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer sebanyak 391,61 ppm. Pada 21 Maret 2020 konsentrasi gas rumah kaca sebanyak 415,67 ppm. Artinya, selama sepuluh tahun jumlah rumah kaca rata-rata bertambah 2,21 ppm per tahun. Jika bujet gas rumah kaca tinggal 34,33 ppm, hanya butuh 15,5 tahun lagi untuk tembus menjadi 450 ppm

Berkenaan dengan meningkatnya Gas Rumah Kaca (GRC) tersebut sesuai dengan Surat Edaran KLHK RI Nomor: SE.1/MENLHK/PSLB3/PLB.O/1/2022 tentang Hari Peduli Sampah Nasional 2022. maka tema yang diangkat dalam Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) tahun 2022 adalah “Kelola Sampah Kurangi Emisi Bangun Proklim” Tema ini diangkat tidak lain karena terus meningkatnya emisi gas rumah kaca, disamping itu Tema HPSN 2022 ini sangat relevan dengan kondisi sekarang  Sebab dengan tema itu, KLHK memberikan perintah agar HPSN 2022 tidak boleh ada lagi kegiatan memungut sampah. Akan tetapi bagaimana mengolah dan meningkatkan nilai hasil dari pada sampah tersebut. Jadi jika masih ada acara HPSN yang hasilnya mengirim sampah ke TPA, berarti pihak tersebut betul-betul tak paham soal masalah sampah Indonesia. Hanya ingin terlihat peduli saja. Yang kalau bisa, selain ingin dilihat punya kepedulian, bisa juga dapat dana sponsor dan bantuan.  KLHK menentukan tema "Kelola Sampah Kurangi Emisi Bangun Proklim" pada HPSN 2022. Karena kenyataan di lapangan, mayoritas sampah tidak diolah. Jika makna dari kata kelola sampah itu adalah mengolahnya untuk dimanfaatkan kembali. Sejauh ini, pengelolaan sampah di Indonesia mayoritas mandeg pada prinsip penanganan. Di mana penanganan yang dimaksud adalah mengangkut dan membuangnya ke TPA. Maka, target pengurangan emisi 29% - 41% emisi gas rumah kaca, bisa dibilang sama sekali tidak linear dengan kondisi di lapangan. Pengelolaan sampah memang ada. Tapi lebih banyak ke penanganan sampah. Yaitu, mengirim sampah ke TPA. Sementara pengolahan sampah masih sangat kecil. Data menunjukkan, sampah yang diolah untuk didaur ulang baru di angka 7% saja. Sementara sampah masuk TPA 69%. Dan sampah tercerai berai di berbagai tempat 24%. 

Hasil kajian menunjukan pertambahan penduduk dan meningkatnya pola konsumsi masyarakat merupakan faktor utama yang menyebabkan laju produksi sampah terus meningkat. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada tahun 2020 menaksir timbunan sampah di Indonesia sebesar 67,8 juta ton, khusus untuk Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2020 jumlah produksi sampah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebesar 654,80 Ton / hari, dimana berdasarkan sumbernya 56 % sampah adalah sampah rumah tanggga dan 13,3 % adalah sampah tradisional sisanya dari perkantoran, pusat perniagaan, fasilitas publik, serta kawasan lainnya, Untuk itu perlu adanya upaya dalam pemanfaatan sampah tersebut guna mengurangi volume, penanganan lingkungan hidup, peningkatan pendapatan maupun pengendalian krisis iklim dimana salah satunya adalah mengolah menjadi ECO EZIM.

Eco Enzyme pertama kali diperkenalkan oleh Dr. Rosukon Poompanvong yang merupakan pendiri Asosiasi Pertanian Organik Thailand. Gagasan proyek ini adalah untuk mengolah enzim dari sampah organik yang biasanya kita buang ke dalam tong sampah sebagai pembersih organik. Eco-enzyme adalah hasil dari fermentasi limbah dapur organik seperti ampas buah dan sayuran, gula (gula coklat, gula merah atau gula tebu), dan air. Produk eco-enzyme merupakan produk ramah lingkungan yang mudah digunakan dan mudah dibuat. Pembuatan eco-enzym hanya membutuhkan air, gula sebagai sumber karbon, dan sampah organic sayur dan buah. Pemanfaatan eco-enzym dapat dilakukan untuk mengurangi jumlah sampah rumah tangga terutama sampah organic yang komposisinya masih tinggi.

Dalam pembuatannya, eco-enzym membutuhkan container berupa wadah yang terbuat dari plastik, penggunaan bahan yang terbuat dari kaca sangat dihindari karena dapat menyebabkan wadah pecah akibat aktivitas mikroba fermentasi. Eco enzyme tidak memerlukan lahan yang luas untuk proses fermentasi seperti pada pembuatan kompos dan tidak memerlukan bak komposter dengan spesifikasi tertentu. Jenis sampah organik yang diolah menjadi eco enzyme hanya sisa sayur atau buah yang mentah. Fermentasi yang menghasilkan alkohol dan asam asetat yang bersifat disinfektan hanya dapat diaplikasikan pada produk tanaman karena kandungan karbohidrat (gula) di dalamnya. Proses pembusukan dan fermentasi daging berbeda dengan tanaman. Daging akan cepat membusuk dan menghasilkan patogen pada suhu yang tidak teregulasi. Jika ingin membuat eco enzyme, atau ingin sampah organik Anda diolah oleh agen sampah, pastikan sampah sisa sayur dan buah terpisah dari sampah organik atau non-organik lainnya. Dalam proses fermentasi akan berlangsung 3 bulan. Bulan pertama, akan dihasilkan alcohol, kemudian pada bulan kedua akan menghasilkan cuka dan pada bulan ketiga menghasilkan enzyme. Pada bulan ketiga, Eco Enzim kita sudah bisa dipanen. Caranya adalah dengan menyaring menggunakan kain yang sudah tidak terpakai atau baju juga bisa digunakan untuk saringan. Sisa atau ampas Eco Enzim dapat kita gunakan untuk beberapa manfaat seperti : (1). Sebagai starter (ease) atau untuk membantu mempercepat proses pembuatan Eco Enzim selanjutnya.(2). Untuk membantu proses penguaraian di dalam septitank dan                    (3). Sebagai kompos dengan cara meletakkannya selapis demi selapis di dalam tanah.

Manfaat yang lain dari  cairan eco-enzim seperti  Cairan Pembersih, pengusir hama dan yang sangat populer adalah berguna untuk menyuburkan tanah dan tanaman, menghilangkan hama, dan meningkatkan kualitas dan rasa buah dan sayuran yang kita  tanam serta yang tidak kala pentingnya berupa melestarikan lingkungan dimana larutan pembersih komersial yang ada sekarang sering kali mengandung berbagai jenis senyawa kimia seperti fosfat, nitrat, amonia, klorin dan senyawa lain yang berpotensi mencemari udara, tanah, air tanah, sungai dan laut. Penggunaan Eco-enzyme sebagai larutan pembersih alami berkontribusi menjaga lingkungan bumi.

Secara garis besarnya cara pembuatan eco-enzim yaitu Bahan berupa Sampah Organik (sayur atau buah mentah) dengan perbandingan bahan : Gula : Air yaitu  3 : 1 : 10 sebagai contoh jika 300 gram  kulit buah maka  100 gram gula dan 1000 (ml) air. Cara ringkas pembuatan eco enzim yaitu (1). Tuang semua bahan ke dalam botol, bisa juga menggunakan blender untuk mencacah limbah, kemudian campur gula dan air dalam botol. (2). Simpan di tempat yang kering dan sejuk dengan suhu dalam rumah, (3) Biarkan selama 3 bulan, dan buka setiap hari di 2 minggu pertama, kemudian 2-3 hari sekali, kemudian seminggu sekali. Di minggu pertama akan ada banyak gas yang dihasilkan. (4). Kadang ada lapisan putih di permukaan larutan. Jika cacing muncul tambahkan gula segenggam, aduk rata kemudian tutup (5). Setelah 3 bulan, saring eco enzyme menggunakan kain kasa atau saringan. Dan (6). Residu dapat digunakan lagi untuk batch baru produksi dengan menambahkan sampah segar. Residu juga bisa dikeringkan, kemudian diblender dan dikubur di dalam tanah sebagai pupuk.

# Selamat Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) tahun 2022 #

#AYO Kelola Sampah Kurangi Emisi Bangun Proklim, Indonesia Sehat#

Penulis: 
Darman Suriah, S. Hut
Sumber: 
DLHK