PANGKALPINANG – Plt. Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Amransyah Muslimin, ST., MT., membuka kegiatan coaching Program Adiwiyata melalui aplikasi SIDIA dalam rangka usulan calon Sekolah Adiwiyata Nasional dan Mandiri Tahun 2026, Senin (25/05/2026), di Ruang Rapat Lantai II DLHK Babel.

Dalam arahannya, Amransyah menyampaikan bahwa dunia saat ini tengah menghadapi tantangan lingkungan hidup yang semakin serius, mulai dari perubahan iklim, pencemaran air dan udara, meningkatnya volume sampah, kerusakan hutan hingga hilangnya keanekaragaman hayati. Menurutnya, persoalan tersebut juga semakin nyata dirasakan di Indonesia maupun di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Ia menjelaskan, persoalan pengelolaan sampah menjadi salah satu isu lingkungan yang paling banyak dikeluhkan masyarakat di Bangka Belitung. Bahkan di Kota Pangkalpinang, volume sampah diperkirakan mencapai sekitar 130 ton per hari, sementara kapasitas pengelolaannya masih membutuhkan penguatan dan partisipasi bersama.

“Oleh karena itu, sekolah memiliki peran penting dan strategis dalam menjadi bagian dari solusi permasalahan lingkungan hidup. Sekolah bukan hanya tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga tempat membangun karakter, budaya, dan kebiasaan hidup yang peduli terhadap lingkungan,” ujarnya.

Melalui Program Adiwiyata, DLHK Babel mendorong terciptanya budaya sekolah yang ramah lingkungan melalui berbagai aspek, seperti menjaga kebersihan dan sanitasi lingkungan sekolah, pengelolaan sampah berbasis 3R (reduce, reuse, recycle), konservasi dan penghematan air, konservasi energi, serta perlindungan keanekaragaman hayati di lingkungan sekolah.

Amransyah berharap sekolah mampu menjadi contoh nyata dalam mewujudkan lingkungan yang sehat, hijau, dan nyaman melalui keterlibatan seluruh warga sekolah. Ia menegaskan bahwa kebiasaan sederhana seperti memilah sampah, menghemat listrik dan air, menanam pohon, menjaga kebersihan toilet dan saluran air, hingga merawat tanaman sekolah merupakan langkah kecil yang berdampak besar bagi masa depan lingkungan.

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya penyusunan target capaian Program Adiwiyata Tahun 2026–2030 serta persiapan usulan Sekolah Adiwiyata Nasional dan Mandiri Tahun 2026 melalui aplikasi SIDIA.

“Saat ini terdapat 13 sekolah Adiwiyata yang kita harapkan dapat meningkatkan kualitasnya ke jenjang lebih tinggi melalui komitmen dan pelaksanaan program secara berkelanjutan. Dengan berbasis aplikasi, selain perubahan perilaku peduli lingkungan meningkat, sekolah juga harus kuat dalam pendokumentasian dan operasional aplikasi,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa batas akhir pengusulan calon Sekolah Adiwiyata Nasional dan Mandiri adalah 31 Juli 2026. Karena itu, seluruh sekolah pengusul maupun instansi penilai diminta memahami tata cara pengusulan dan penyusunan folder dokumen melalui aplikasi SIDIA secara baik dan benar.